SITUS GEMEKAN

Penyelamatan lanjutan, terutama melalui eksplorasi Situs Gemekan di Dusun Kedawung, Gemekan, Sooko, Mojokerto, diharapkan dapat memberikan kontribusi berharga pada narasi sejarah Majapahit. Situs Gemekan, yang berasal dari abad ke-10, lebih tua setidaknya tiga abad dari Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Dengan temuan ini, muncul interpretasi bahwa Majapahit mungkin tumbuh di atas fondasi budaya atau peradaban yang lebih awal.

Ismail Lutfi, seorang epigraf dan dosen senior sejarah di Universitas Negeri Malang, menyatakan keterkaitan dengan Majapahit disebabkan oleh usia Situs Gemekan yang jauh lebih tua dan lokasinya yang dekat dengan Trowulan, dianggap sebagai pusat pemerintahan Majapahit. Ekskavasi Situs Gemekan disponsori oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kaloka Malang untuk mendukung upaya penyelamatan yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto, serta Pemerintah Desa Gemekan.

Lutfi menjelaskan bahwa dalam ekskavasi tersebut ditemukan prasasti batu andesit di Situs Gemekan, dengan bagian bawahnya yang patah. Prasasti yang masih utuh memiliki dimensi 91 x 88 x 21 cm, dengan tulisan pada keempat sisinya. Prasasti ini diyakini berkaitan dengan upacara penetapan sima dari wilayah Lemah Tulis, yang juga terdapat dalam Prasasti Alasantan di dekat Candi Brahu, Desa Bejijong, Trowulan.

Zakaria Kasimin, Kepala BPCB Jatim, menambahkan bahwa Situs Gemekan menunjukkan relevansi dengan tinggalan sebelumnya, seperti Candi Brahu dan Prasasti Alasantan di Trowulan. Temuan ini mendukung gagasan bahwa peradaban Majapahit mungkin dibangun di atas lapisan budaya atau peradaban sebelumnya. Beberapa situs di Trowulan, seperti Sumur Upas, juga menunjukkan pembangunan struktur bangunan baru di atas lapisan yang lebih tua.

Keberadaan Situs Gemekan, yang berjarak 4-5 kilometer dari Trowulan, pusat peninggalan Majapahit, memberikan kontribusi penting dalam penelitian arkeologi untuk memahami hubungan Majapahit dengan peradaban sebelumnya. Namun, keberadaan situs ini tidak lepas dari ancaman penjarahan, dan upaya pelestariannya diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat. Ekskavasi juga mengungkap adanya terowongan baru yang mencurigakan, mungkin digunakan oleh pemburu harta karun untuk merampok situs-situs kuno.